Selagi tidak bertemu sang gusti

woman wearing red chinese traditional dress
Photo by Tún on Pexels.com

Acap kali pandang ke langit,
Mata tertutup tidak ingin bangkit,
Rimas merayau atas kulit,
Bicara halus menggegar sengit,
Otak ke hati berdarah sakit,

Darah merah tidak kelihatan,
Bukan luaran tapi dalaman,
Takut risau makin menekan,
Merasuk jiwa halus bagai siulan,
Pujukan rayunya jadi dambaan,

Kesunyian ini menelan kelam,
Lebih luas dan hitam daripada malam,
Senyaring teriak seluruh alam,
Sedalam lautan tidak mampu diselam,
Menyelubungi tubuh yang sudah jatuh tenggelam,

Jiwa oh jiwa, hunuskan cinta,
Hilangnya bukan dipinta,
Perih ditolak tambah cerita,
Belum diluah tidak tercipta,
Tersedar bangun balasnya buta,

Apa lagi ingin diseru,
Hati ini sudah ditembus peluru,
Bolong kosong darah meluru,
Mukanya pucat tampak biru,
Sendirian makin kelat makin cemburu,

Racau kata-kata dalam hati,
Kacau jiwanya tidak berhenti,
Setiap langkah tiada erti,
Masa berlalu tiada ganti,
Selagi tidak bertemu sang gusti.

3 thoughts on “Selagi tidak bertemu sang gusti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s